Pembohong Yang Tak Sombong

Tak ada pembohong paling hebat kecuali Dia. Siapapun yang berbicara dengannya pasti akan mati kutu karena kalah dalam kata-kata. Tak ada orang yang menyukainya. Setiap ada dia, pasti segala kerumunan akan bercerai. Tak hanya tempat-tempat perjudian, bahkan pasar malam yang seharusnya meriah di tengah kampung yang miskin hiburan, ketika dia datang, orang-orang lebih memilih pulang dari pada mendengar kebohongan yang keluar dari mulutnya.

Pernah suatu hari ada kerumunan di tengah jalan yang mengundang perhatian seluruh penghuni kampung. Petani yang hendak berangkat ke sawah, ibu-ibu yang seharusnya sibuk di dapur, tak terkecuali anak-anak sampai menghentikan permainan mereka, ikut berkerumun penasaran dengan apa yang terjadi.

Dalam lingkaran manusia-manusia penasaran itu, duduk seorang perempuan tua dengan pakaian lusuh memeluk buntelan dan menangis tersedu-sedu. Semua bertanya-tanya, saling menggunjing ke sana-kemari tanpa mengetahui peristiwa apa yang menimpa perempuan itu. Seperti biasa, kabar burung dengan cepat menyebar dan bumbu-bumbu selalu ditambahkan untuk menambah sensasi pedas agar semakin menarik untuk di dengar.

“Ada apa di sana ramai sekali?”

“Pengemis miskin. Sepertinya kelaparan karena tak ada seorang pun yang memberinya uang hari ini.”

“Ah, tapi kenapa harus menangis segala? Masih banyak rumah yang bisa diminta. Pasti salah satunya mau memberi.”

“Ya, siapa tahu sudah tidak kuat menahannya dan sudah lemah berjalan. Jadi, hanya bisa menangis. Dengan begitu kan banyak orang yang datang tanpa susah-susah ke rumahnya. Lalu dengan mudah meminta belas kasihan dari mereka.”

Dalam waktu singkat berbagai kabar lain mulai bermunculan. Ada yang mengatakan sebuah sepeda menyerempetnya, tapi pengendaranya melarikan diri. Ada juga yang mengatakan anaknya hilang dan perempuan itu tak tahu harus mencarinya ke mana. Bahkan yang paling parah ada yang mengatakan wanita itu diusir oleh anaknya karena merepotkan. Jadi, menantunya tidak setuju perempuan itu tinggal serumah dengan mereka. Desas-desus itu pun terus mendengung tiada henti dengan berbagai versi.

Lalu ketika Dia—pembohong itu datang dan tenggelam ke dalamnya, barulah segalanya berhenti. Senyap seperti kabut asap. Namun sebelum Dia berucap, warga sudah mulai membubarkan diri bahkan sebelum kata pertama keluar dari mulutnya. Dia tak perduli. Jika sudah berkehendak, tak ada yang dapat menghentikan kata-katanya. Dia pun mengatakan kebohongannya kepada perempuan tua itu.

“Bangunlah, Bu. Apa yang ibu harapkan di sini? Belas kasihan dari orang-orang ini?” Beberapa orang sebenarnya masih penasaran dengan perempuan tua itu. Namun mereka tahu, semakin lama dia mendengar pembohong ini berbicara, maka… Ah, tidak. Membayangkannya saja mereka ketakutan. Jadi lebih baik menyingkir saja.

“Lihatlah! Ibu sudah mendapatkannya,” Dia mengucapkannya juga. “Ibu telah mendapatkan perhatian mereka, nama ibu telah terkenal bahkan oleh seorang petani yang baru saja lewat.”

“Cerita tentang kisah kehidupan Ibu yang menarik juga mereka sudah tahu meskipun mereka tidak mengenal siapa dan dari mana Ibu . Jadi, jika ibu masih  betah duduk di sini, bisa jadi buntelan yang ibu bawa atau bahkan merek baju yang ibu pakai sebentar lagi pasti akan menjadi trend setter di kampung ini.”

Kebohongan itu berhasil membuat ibu yang entah siapa dan dari mana ini segera beranjak dari tempatnya. Lalu tanpa sepatah kata pun ia pergi meninggalkan pembohong itu.

Siapapun tahu Dia pembohong di kampung ini. Meskipun kebanyakan orang tidak menyukainya, tapi dalam hati kebanyakan mereka mengakui bahwa keahliannya itu memiliki sisi yang positif. Yah, setidaknya dia selalu menjadi pemecahan masalah jika ingin membubarkan kerumunan.

Seperti malam itu, ketika seluruh peserta rapat di kantor kelurahan belum juga menemukan jalan pemecahan hingga larut malam. Ketegangan terjadi bahkan beberapa sempat membanting kursi. Waktu rapat sebenarnya sudah berakhir sejak beberapa jam yang lalu, tapi karena masalah semakin rumit, ruang rapat itu masih terjaga. Beberapa suami-suami merasa khawatir jika hal ini berlanjut hingga pagi. Dan semakin larut, pasti keputusan bukan lagi mengandalkan rasional, melainkan kebanyakan sikap-sikap mengalah agar rapat segera berakhir. Tentu saja hal ini pasti akan menimbulkan penyesalan di akhir.

Maka malam itu mereka sepakat, setelah sekian lama mereka tidak mau dekat-dekat, akhirnya mereka mengakui bahwa ini adalah solusi yang yang dicapai secara mufakat—walau sebenarnya disebut dengan solusi nekat. Maka ketika bulan semakin sempurna memasang wajah bulatnya, beberapa orang diutus untuk menjemput Dia—pembohong kampung ini. Memaksanya datang meskipun hari sudah sangat larut.

Untuk pertama kalinya Dia heran duduk di tengah-tengah rapat kampung. Tidak tanggung-tanggung, dia diperkenankan untuk berpendapat. Padahal selama ini setiap ucapannya selalu ditakuti. Maka malam itu tanpa aling-aling Dia mengungkapkan kebohongannya.

“Kalian ingin menyetujui pembangunan pabrik di kampung kita? Wah itu bagus sekali. Bayangkan, anak perempuan kalian tidak perlu lagi ke sawah dan di jemur matahari hingga kulitnya hitam legam. Kelak mereka akan terlihat cantik karena toko-toko kecantikan mulai bermunculan memenuhi kebutuhan karyawan-karyawan pabrik. Dan bisa jadi, karyawan-karyawan itu adalah kalian. Bukankah itu hebat? Kalian bekerja untuk orang lain, di atas bekas tanah kalian, dan kalian dibayar mahal.”

Kali ini semua terdiam. Mendengarkan dengan saksama setiap kata-kata bohong itu.

“Nanti jika pabrik berdiri, jalan-jalan akan semakin bagus, bukan? Jika malam banyak penerangan, jadi kalian tidak perlu banyak tidur karena malam hari pun masih bisa keluyuran ke mana-mana. Istri kalian bisa ditinggal di rumah semalaman sendirian. Apalagi jika pabrik menyediakan tempat-tempat hiburan agar karyawannya tidak stress, kalian bisa mencicipi tubuh wanita lain yang lebih cantik. Bukankah itu kenikmatan yang tiada tara? Wanita penghibur itu dengan mudah kalian bayar lalu pergi setelah memakainya. Persetan dengan urusan agama. Bukankah kita sedang di dunia? Cari kenikmatan sebanyak-banyaknya. Masalah dosa nanti di akherat urusannya, bukan di sini.”

“Lalu kenapa kalian masih berdebat dengan kehebatan-kehebatan ini? Kalian sudah tidak memerlukan sungai yang jernih lagi, karena sawah-sawah sudah tidak ada dan sungai-sungai itu akan dijadikan tempat pembuangan limbah. Anak-anak kita tidak perlu lagi mandi di sana. Wong, ikan-ikan saja mati karena pekatnya racun yang dikeluarkan dari pabrik. Berikan saja anak-anak kita permainan lain yang sama menyenangkannya, seperti internet. Di sana banyak ditemukan gambar-gambar bahkan film-film porno untuk mendidik mereka menjadi penggila sex. Jadi, kurasa kalian benar-benar bodoh jika menolak tawaran ini.”

Ruang rapat itu seketika lenggang. Bahkan detak jam dinding seakan menggema di setiap otak pada peserta rapat. Semua merasakan bahwa kebohongan itu adalah kebenaran. Apa yang dikatakannya adalah kenyataan meskipun tak tersampaikan langsung.  Dia telah memukul hati warga dengan kebenaran berbalut kebohongan, bagaikan matahari yang menerangi malam melalui pantulan wajah bulan. Kini siapapun tahu bahwa yang mendengar kebohongannya akan menyadari bahwa setiap kalimat yang diucapkannya bukanlah omong kosong. Dia pembohong tapi tak ada sedikitpun kesombongan dalam setiap kata-katanya.

“Apa kalian ingin hidup bahagia di hari tua?” Tiba-tiba dari arah pintu terdengar pertanyaan dengan suara serak. “Lihatlah aku! Aku datang dari kampung sebelah. Dulu aku juga seperti kalian, punya rumah dan tanah yang luas. Tapi setelah di kampung kami berdiri pabrik, segalanya berubah. Bahkan anakku tak mau lagi pergi ibadah karena sibuk bekerja. Dan aku ditelantarkan begitu saja tak diperdulikan mau makan apa. Anak-anakku sudah lupa dengan Tuhannya, lalu bagaimana mereka ingat dengan orang tuanya?”

Perempuan tua itu menangis. Semua orang baru menyadari bahwa perempuan itu adalah penyebab kerumunan di jalan beberapa waktu lalu.

“Sekarang aku bahkan harus tidur menumpang kantor kelurahan di kampung yang bukan tanah kelahiranku gara-gara tak punya tanah dan rumah sendiri. Jika kalian ingin mendapatkan kebahagian masa tua sepertiku, kalian bisa menjual tanah dan rumah kalian untuk kemegahan pabrik yang kalian perdebatkan hingga membuatku tak bisa tidur padahal sebentar lagi shubuh tiba.” Perempuan itu pun telah tertular dan mengatakan kebohongan. Kebohongan yang mengungkapkan kebenaran. Kebohongan yang tak ada kesombongan.

Cita-citaku Untuk Bangsa

Oleh : Abdaka Han

 

Gelap jalan yang kulalui.

Berselimut dingin tak berperi.

Seakan menutup mata hati.

Menyeretku untuk kembali.

 

Tangis pilu,

Lelah tak berhulu,

Tak henti-hentinya berlagu,

Terus-menerus menghantuiku.

 

Inilah jalan masa depan.

Tiada datar kurasakan.

Onak duri menjadi teman,

Diantara peluh bercucuran.

 

Benar nian apa kata orang.

Cita-cita tak mudah didapatkan.

Tekad dan kesungguhan,

Tak bisa ditangguhkan.

 

Duhai, daun berguguran.

Terbawa angin entah kemana.

Kini kutahu rasanya bertahan.

Setelah terik matahari menerpa.

 

Bukan aku tak sudi menerima,

Keluh kesah ini bukan putus asa,

Tapi memahami nikmat sang kuasa,

Menuju insan yang bijaksana.

 

…oO0Oo…

 

Karena itu aku terus belajar.

Membaca dan memahami alam.

Matematika dan logika,

Sejarah dan agama.

 

Detik demi detik berlalu,

Lembar perlembar buku,

Terseraplah ilmu,

Membentuk keahlianku.

 

Laksana aliran jernih,

Mata air pegunungan  murni,

Ilmuku memberi arti,

Membasahi seluruh negeri.

 

Ini bukan tentang harta,

Keping-keping yang kuterima,

Tapi pengabdianku pada negara,

Bumi pertiwi yang kucinta.

 

Biarlah orang berkata apa,

Takkan padam nyala di dada,

Semangat ini kan kujaga,

Meski badai datang menyiksa.

 

Semua itu demi satu impian.

Cita-cita yang kutorehkan.

Kan terus bersemayam,

Di dadaku hingga akhir zaman.

 

…oO0Oo…

 

Jayalah negeriku,

Jayalah bangsaku,

Tanah air jadi saksi ikrarku,

Di bawah ridho Tuhanku.

 

Biarlah api mimpi ini menyala,

Laksana lilin kecil di tengah gulita,

Menghangatkan asa dalam jiwa,

Memberi terang bagi Indonesia.

 

Hingga kelak kan kubanggakan.

Untukmu para pahlawan.

Ku sambung semangat perjuangan.

Membela pancasila dari penindasan.

 

Wahai, Tuhan Sang Pencipta,

Pada-Mu kupanjatkan doa,

Beri kemudahan mengejar cita,

Menjadi generasi penuh karya,

Mengangkat martabat bangsa,

Di mata dunia.

Pesan Untuk Surga

Oleh : Abdaka Han

 

Takkan pernah hilang dalam ingatan, kasih sayang yang engkau berikan.

Senja datang tiba-tiba memisahkan cerita tentang kita.

Kau yang di sana, apakah bahagia?

Jika Dia mengizinkan kutitipkan cinta. Biarlah kekal di surga.

Kini ku dapat tersenyum, tapi hanya kau yang tahu bagaimana hati ini sebenarnya.

Dunia kita berbeda, terbatas oleh batu nisan di atas pusara, tapi tidak dengan rasa ini, tetap tegar abadi.

Kuserahkan segalanya pada Tuhan. Biarlah waktu yang mengantarku untuk bertemu.

Pada hari itu, kita kembali bersatu, tertawa bersama seperti dulu.

Aku, Kamu, Bertemu Satu Garis

Oleh : Abdaka Han

Kuselipkan rahasiaku pada malam. Agar tak seorangpun tahu laksana kebutaannya pada hari esok. Bahkan sekerlip cahaya bintang pun takkan kubiarkan bersemayam. Apalagi dirimu.

Biarlah rahasia ini menjadi kelam selamanya. Tersusun rapi dalam rangkaian cerita. Walau takkan pernah ku ungkapkan padamu. Lalu tenggelam dalam kenangan.

Seandainya rotasi dapat kuhentikan, mungkin kupilih sekarang. Saat di mana aku dapat memikirkanmu, membayangkan senyumanmu, menggali ingatan ketika kau memanggilku dan segala hal atas namamu.

Aku, kamu, kita bertemu dalam satu garis. Tapi takkan pernah bersatu dalam aksara. Apalagi melengkung membentuk kata, “Cinta”.

Teriring doa yang kulantunkan, bukan ku ingin bersamamu. Melainkan ku harapkan kau menemukan hati yang tepat untukmu.

Lalu bagaimana denganku?

Dengan melihatmu dari bangku belakang seperti sekarang, lebih dari cukup bagiku. Karena yang membuatku bahagia bukan mendapatkan cintamu, tapi melihatmu tertawa meski bukan bersamaku.

Teman Alienku

Oleh : Abdaka Han

 

Pernahkah kau bertemu alien? Atau jangan-jangan kalian benar-benar tidak percaya alien? Aku tahu, kalian pasti beranggapan bahwa alien hanya ada di film-film science-fiction dan bukan di kehidupan nyata. Baiklah, tapi aku beritahu satu rahasia, aku pernah bertemu dengan salah satu dari mereka.

Aku tidak bohong. Kau boleh percaya atau tidak, tapi itu tidak merubah apa-apa. Seperti orang-orang Atheisme yang tidak percaya pada Tuhan, atau orang-orang Theisme yang percaya dengan adanya Tuhan, keduanya tidak mempengaruhi kenyataan sama sekali. Jika kenyataannya Tuhan ada, itu bukan karena orang-orang di seluruh planet ini mempercayai ada-Nya. Tapi memang karena kenyataannya Dia ada.

Begitu juga dengan teman alienku. Aku mengatakan bahwa dia nyata karena memang kenyataannya dia ada dan aku pernah bertemu dengannya. Baiklah, nanti aku akan menceritakan tentang teman alienku. Tapi sekali lagi, kau percaya atau tidak, itu tidak mempengaruhi apa-apa.

Sejujurnya pada awalnya aku tidak mempercayai bahwa dirinya adalah alien. Betapa tidak, dia memiliki dua buah mata yang sempurna, tangan dan tubuhnya tidak berbeda dengan kita pada umumnya, jadi siapa saja bisa tertipu bahwa dia adalah alien, termasuk aku.

Teman alienku mengatakan bahwa kedatangannya bukan untuk melakukan penjajahan terhadap planet kita. Justru sebaliknya, dia ingin menciptakan keseimbangan alam semesta.

Dari ceritanya aku tahu betapa dirinya sangat menghargai misi itu. Katanya, dulu planetnya pernah mengalami kehancuran akibat keserakahan penghuninya. Pembakaran hutan-hutan untuk dijadikan lahan keuntungan pribadi, perusakan ekosistem lautan tanpa perduli dampak jangka panjang bagi anak-cucunya, pencemaran udara dan semuanya hanya demi mengejar kekayaan. Ketika hidup hanya didasarkan pada keinginan diri sendiri, maka terjadilah pertikaian dan pertumpahan darah. Parahnya, alam yang menjadi korban. Dampaknya, bukan hanya diri dan keluarganya, orang-orang yang tidak berdosa bahkan keturunannya pun harus ikut menanggung akibatnya.

Oh iya, aku lupa mengatakan bahwa selain tubuhnya yang mirip dengan kita, ternyata planetnya juga mirip sekali. Di planetnya juga memiliki pantai yang indah, gunung-gunung yang menjulang tinggi, 4 musim setiap tahunnya, serta banyak hal-hal lain yang tidak jauh berbeda dengan planet kita. Jika kau melihat foto dia saat bersama dengan keluarganya dengan latar belakang danau berwarna-warni, pasti kau juga ingin ke sana untuk melihatnya.

Menurutnya, keseimbangan alam adalah misi yang takkan pernah putus. Karena kita berhadapan dengan ambisi makhluk-makhluk Tuhan yang senantiasa merusak demi kepuasan diri sendiri. Dan karena alam semesta ini disusun dengan sempurna orbit-orbitnya, jika salah satu planet hancur akan berpotensi besar mengganggu keteraturan yang telah ditetapkan selama milyaran tahun. Ketika hari itu terjadi, maka kiamat takkan terhindarkan.

Selama kami bersama, paling banyak aku bertanya tetang cara dia bisa sampai ke planet kita. Dan aku tertarik dengan cerita tentang pesawat luar angkasa mereka.

Pesawat itu terbuat dari logam yang kuat dan terukur untuk berbagai hantaman yang berpotensi terjadi di angkasa. Keadaan yang paling buruk adalah ketika pesawat harus berhadapan dengan badai elektromagnetik yang dihasilkan dari ledakan supernova—bintang mati. Energi besar dan tak terlihat tapi dampak kerusakannya luar biasa bagi pesawat yang mayoritas sistem kerjanya menggunakan energi listrik. Aku yakin, pembuat pesawat itu adalah makhluk yang sangat cerdas sehingga dapat merumuskan perhitungan matematika yang tepat untuk berbagai situasi.

Sayangnya, kebersamaanku dengan teman alienku sangat singkat. Dia harus kembali untuk meneruskan misinya menjaga keseimbangan alam semesta dari kerusakan. Dan karena kedatangannya telah diketahui oleh media.

Saat itu media elektronik menyiarkan adanya medan magnet aneh di sebuah hutan yang terpencil. Petani secara tidak sengaja menemukannya karena merasakan sesuatu yang keras di udara.

“Itu pesawat kami?” kata teman alienku.

Dia menjelaskan bahwa pesawatnya dalam mode manipulasi. Kemampuan ini akan meneruskan cahaya sehingga tidak akan memantul kembali ke mata. Alhasil, pesawatnya menjadi tidak terlihat seperti tidak terdapat sesuatu di depannya. Hanya saja jika dipegang akan terasa keras karena sebenarnya memang pesawat itu sedang terparkir di sana.

Kami pun berpisah dan dia pergi.

Pertemuan singkat itu membangkitkan kembali asa di jiwaku yang sempat padam oleh rutinitas. Dalam keremangan jiwaku, seberkas cahaya kembali bersinar dan meneriakkan kata-kata yang bahkan tidak terpikir sama sekali, aku ingin menjelajah angkasa.

Esoknya media menyiarkan kedatangan militer-militer pemerintah dan ilmuan-ilmuan ke tempat medan magnet yang ditemukan oleh petani kemarin. Daerah itu bahkan dilingkari sebagai area terlarang untuk umum. Sayangnya, medan magnet itu telah hilang. Hanya aku yang tahu bahwa itu adalah pesawat luar angkasa. Dan dengan menghilangnya medan magnet, berarti temanku benar-benar telah meninggalkan planet kita.

Bertahun-tahun berlalu, setelah pertemuan itu setiap aku memandang langit, aku percaya temanku ada di antara planet-planet yang mengorbit salah satu bintang di sana. Aku ingin menemuinya sekali lagi, aku ingin menjelajah angkasa seperti dia mengarunginya.

Maka aku pun belajar bagaimana menciptakan pesawat seperti dia. Tak perduli berapa lama aku berhasil menciptakannya, selama aku punya keinginan maka aku pasti bisa mewujudkannya. Bisa jadi nanti akan terjadi pengulangan ketika diuji sampai berkali-kali. Tapi sekali lagi, itu tidak masalah, sudah menjadi resiko seorang peneliti. Oh iya, sekarang aku menjadi bagian dari ilmuan peneliti pemerintah di bagian antariksa. Aku menyampaikan gagasanku untuk membuat pesawat penjelajah angkasa lewat proposal penelitian yang selama kuliah ku susun dengan penelitian sebaik mungkin. Siapa sangka proposalku diterima dan aku diangkat menjadi staff di lembaga astronomi pemerintahan.

Sudah ku bilang, kau percaya atau tidak percaya dengan alien itu tidak akan merubah apapun. Tapi jika aku berhasil menciptakan pesawatku, aku benar-benar akan menemukan planet teman alienku. Aku ingin melihat isi planetnya seperti dia melihat planetku.

Teman, kau adalah inspirasiku. Aku ingin menjadi penjelajah angkasa sepertimu. Aku ingin tahu keindahan planetmu—planet Bumi.

Kesendirian

Aku mulai akrab dengan apa yang biasa disebut “kesunyian”. Entah kenapa? Gejolak pikiranku tak karuan arahnya. Kadang ke selatan, lalu berubah haluan ke timur. Sedetik kemudian berganti lagi ke barat dan utara. Begitu berulang-ulang tiada berhenti sedikitpun. Aku sendiri tak tahu apa yang sedang kupikirkan. Hanya ingin membuka kenangan-kenangan indah dan kelam bersamaan tak berurutan pula. Karena itu kesunyian sudah mulai akrab denganku.

Padahal 2 tahun belakangan ini justru aku menolak menemuinya. Wajar saja. Di usiaku yang belia ini selalu haus akan rasa dunia yang seperti tak pernah habis masa sukanya. Apalagi berjuta penawaran kenikmatan metropolitan selalu mengundang tanda tanya yang menarik untuk dicicipi. Bukankah masa muda adalah masa yang paling indah? Dan disitulah dulu aku berdiri bersama teman-temanku menjajaki satu-persatu jawaban atas setiap inci pertanyaan dalam benakku.

Tapi sekarang semuanya telah berubah. Aku lebih suka bersunyi-sunyi. Seakan-akan aku tak ingin lepas dari kesendirian. Di saat dia memelukku, aku menggenggamnya semakin erat dengan harapan ia lebih dekat padaku. Yah, aku seperti sudah tergila-gila dengannya. Sunyi, sendiri, seperti sudah menjadi makanan sehari-hari yang kubutuhkan saat ini.

“Mila, kenapa kamu masih disitu?” Suara lembut emakku yang tulus membuyarkan kemesraanku. Aku benar-benar tidak tega tatkala melihat wajah kekhawatiran di wajahnya. “Ayo nak, kita masuk ke dalam! Matahari sudah hampir tenggelam.”

Benar saja. Langit memerah berpendar di ufuk barat. Burung-burung sawah memenuhi udara, bersiap-siap kembali ke sarangnya. Dari jauh, suara-suara panggilan menghadap Yang Maha Kuasa sayup-sayup terdengar dari surau-surau kecil di atas bukit. Itu berarti sudah seharian aku berada disini. Keterlaluan sekali memang. Aku benar-benar lupa waktu jika sudah tenggelam dalam kesendirian. Wanita berpakaian lusuh yang sejak tadi menungguku tampak semakin keriput saja. Usianya memang sudah hampir enam puluh tahun. Tapi garis-garis di wajahnya yang kian terpancar saat ini bukan disebabkan oleh usianya yang bertambah, melainkan kasih ibu yang turut sedih melihat anaknya seperti tak lagi memiliki semangat hidup.

“Iya mak, sebentar lagi.” Sahutku. Tapi hatiku tetap tak bergeming dari keadaan tenang ini. Sambil menghadap hamparan sawah yang sudah menguning. Di bawah kakiku mengalir sungai selebar tiga langkah manusia dewasa. Airnya jernih sekalipun dangkal. Mengalir deras mengantarkan riak dari hasil belahan geragal yang memenuhi dasarnya. Keadaan inilah yang kubutuhkan. Aku masih enggan beranjak dari dipan ringkih yang kududuki. Para petani sengaja menaruhnya disini sekalipun sudah lebih dari lima sasi tak terpakai karena sudah hampir roboh. Tapi bagiku rasanya sama seperti duduk di sofa mahal milik Pak Bakrie—kepala sekolahku ketika aku masih duduk di bangku SMA dulu.

Dua tahun lalu aku masih sering tertawa sebagaimana siswa sekolah menengah pada umumnya. Memiliki teman-teman yang juga menyukai hobi sama. Selalu beriringan setiap kali pergi ke suatu tempat. Bahkan seluruh penghuni sekolah tahu kami tak pernah terpisahkan. Mereka menyebut kami “bidadari sekolah” karena kami selalu menjadi pusat perhatian para lelaki. Dari kebersamaan itulah yang akhirnya membuat mataku melek informasi. Berawal dari seorang perempuan desa, aku berinkarnasi menirukan gaya para idola. Intinya dalam berbagai hal apapun, langkah kami selalu searah. Searah menuju modernitas orang-orang kota.

Hingga suatu saat, aku membuat keputusanku sendiri. Tanpa melibatkan mereka—sahabat yang selalu mendukungku. Keputusan yang tak pernah ku lupa. Karena dari keputusan itulah “kesunyian” ini bermula.

“Mila, sudah maghrib nak. Tidak baik duduk sendirian di tepi sungai begitu.” Emak selalu saja sabar menasehatiku. Entah berapa kali aku sudah membuatnya kecewa. Tapi kasih sayangnya seolah tak pernah habis mengalir. Dan sebentar lagi, untuk kesekian kalinya, mungkin sekali lagi aku akan menggoreskan perih yang dalam di hatinya. Dan kali ini bisa jadi sakitnya tak bisa terobati sepanjang hidupnya (jika umur panjang masih menyertainya). Aku merasa menjadi anak paling durhaka di dunia. Sekilas terbersit pikiran aneh di kepalaku : mungkin aku tak layak menjadi putrinya. Dia terlalu sempurna untuk anak tak tahu diri sepertiku.

Kali ini aku tidak menyahut. Bayangan langit merah yang terpantul dari sungai memang sudah mulai menghilang. Kegelapan semakin menutupi hamparan sawah di seberang. Tapi aku masih bisa melihat ikan-ikan berenang kesana kemari di bawah kakiku. Sepertinya mereka sedang menjalin kasih. Alangkah bahagianya mereka, pikirku.

Di sela-sela riang para ikan mungil yang bermesra itu, kesunyian kembali menyelimuti. Kenangan setahun lalu pun perlahan-lahan menyibak. Semakin lama semakin jelas menggambarkan sosok wajah yang sangat ku kenal. Samar-samar aku melihat seberkas senyuman Andi—mantan kekasihku menyembul dengan rambut cepak bak tentara dari negeri ‘Paman Sam’ dalam film-film Hollywood. Bedanya senyum yang terkembang darinya selalu lebih manis karena matanya begitu tajam seperti menghujam sejuta panah cinta. Paling tidak menurutku begitu. Meskipun pada akhirnya aku baru menyadari ternyata panah-panah itu meninggalkan bekas luka yang menghitam di dasar hatiku. Tapi akalku tetap saja tak mampu memungkiri perasaan ini, bahwa sampai sekarang aku selalu berpikir bahwa dia adalah pria paling tampan di semesta raya.

Aku mengenal Andi secara tidak sengaja. Meski begitu, sebenarnya aku dulu pernah bersyukur bahwa tali takdir telah mempertemukan kami bersama. Kala itu hujan lebat menyapu seluruh kota, menghapus gerah yang kian meningkat oleh polusi berkabut yang menyesak di dada. Setelah berbulan-bulan metropolitan menyengat di musim kemarau, hujan telah memberikan kesegaran yang tiada tara bagi penikmat udara segar. Tapi tak sedikit pula yang menghujat anugerah Tuhan yang turun dari awan hitam ini, hanya karena mereka takut pakaiannya basah. Termasuk diriku saat itu. Gara-garanya aku harus berdiri sejam lebih, sendirian seorang diri di halte menunggu bus kota yang setiap hari mengantarku pulang. Saat itu, aku memaki-maki kesendirianku.

Seiring dengan waktu yang terasa bergerak lambat, dalam kegeramanku menunggu, dalam suasana begitulah pertama kali aku bertemu dengan Andi. Awalnya dia mencoba mengenalkan diri (meskipun saat itu aku membalasnya dengan kesal karena tiba-tiba dirinya sok perhatian). Andi adalah mahasiswa politeknik universitas negeri yang terkenal di kota Surabaya. Anaknya ramah, tanpa sadar bisa membuat suasana beku diantara kami menjadi cair. Panjang lebar ia bercerita kesana-kemari. Dari ceritanya aku tahu dia punya impian kuliah S2 sambil bekerja di Jepang. Lalu lambat laun rasa bosan berbalut angin dingin di dadaku berubah menjadi kehangatan oleh cerita-cerita lucu dari mulut Andi. Dari situlah aku mulai mengenal Andi sebagai pria dengan sejuta bunga yang menyerbakkan aroma wangi di hari-hariku.

Hubungan kami terus berlanjut tanpa diketahui oleh siapapun, termasuk teman-teman baikku. Setiap hari kami selalu bertemu di tempat yang sama, dalam waktu yang sama pula. Sebenarnya bukan karena sengaja membuat janji, tapi hati kamilah yang menuntun kaki ini untuk melangkah di tempat dan waktu yang sama ketika awal kali bertemu. Dan benarlah adanya, tempat dan waktu itu telah mengikat benih-benih suka diantara kami menjadi pohon asmara yang subur di tengah taman surga.

Setahun berlalu, hari-hariku selalu diisi oleh lembaran-lembaran bahagia. Sayangnya lembaran itu hanya berisikan nama Andi di dalamnya. Ya, pria ini telah membuatku mati rasa, sulit memejamkan mata dan sebagaimana orang-orang gila karena cinta pada umumnya, yang terpatri dalam pikiranku hanyalah dirinya. Aku memang telah dibutakan oleh cinta. Ah, Andi. Aku selalu saja ingin menghabiskan waktu bersamanya. Apalagi jika dia sudah mengucapkan kata-kata mutiara, aku selalu terbuai dibuatnya.

“Ada surat dari Jepang, nduk. Sepertinya dari temanmu. Apa kamu tidak ingin membacanya?” suara emak masih saja terdengar tenang seperti biasa. Surat? Aku tahu surat itu pasti bukan pertanda baik. Firasatku semakin kuat karena pos yang datang langsung diterima oleh emak. Kenapa tidak lewat rumah Pak De seperti biasanya?

Tiga bulan lalu adalah puncak pendakian cinta kami. Sekaligus jatuhnya kehidupanku yang lain. Sekolah sudah tak lagi aku perdulikan, nilai-nilaiku sangat tragis penuh warna darah. Parahnya, tak ada lagi teman-teman yang mendukungku seperti dulu. Mereka telah membenciku karena jarang berkumpul bersama (sampai sekarang mereka tidak tahu bahwa aku selalu pergi dengan Andi). Dan kemungkinan hidupku selanjutnya hanya akan berakhir di lembah hitam, kecuali cintaku pada Andi. Segala waktu yang kupunya telah kuserahkan pada kekasihku itu, tak sedetikpun aku luput dari memikirkan dia. Awalnya aku berpikir seluruh jiwa dan ragaku siap kuserahkan untuk arjunaku ini.

Dan di malam setelah Andi wisuda, dia mengajakku ke puncak untuk merayakan kelulusannya. Hanya berdua. Malam itu aku sangat bahagia karena dunia seperti milik kami berdua. Aku tak perduli bahwa aku sudah berbohong pada semua orang rumah malam itu untuk mengerjakan PR di rumah teman-temanku.

“Mila, kau tahu, cintaku padamu seperti apa?” Tiba-tiba Andi menanyakan sebuah pertanyaan yang sudah lama aku ingin tanyakan padanya. Aku tak tahu bagaimana Andi bisa membaca isi hatiku, bahwa aku ingin sekali mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu dari dirinya sendiri.

“Sebesar ini…” Andi mengambil setangkai daun di dekatnya. Kuperhatikan ia susah payah membuat daun itu tetap pada posisis semula. “Lihatlah!”

Air di atas daun yang dibawanya bergoyang-goyang berusaha keluar. Tapi Andi tak membiarkannya lepas dari daun yang telah dibentuk menjadi mangkuk oleh tangannya. “Air ini tak pernah berhenti di sini. Ia akan mencari dan terus mencari jalan untuk bisa sampai ke tengah samudera. Seperti itulah cintaku. Berawal dari titik embun, tapi terus mengalir untuk mengumpulkan kekuatan dalam mendapatkan cintamu. Hingga kelak kita bisa bersatu dalam luasnya samudera bersama.”

“Sayang, maukah kamu mengarungi samudera cinta bersamaku?” kata-kata Andi benar-benar meluluhkanku. Jika sudah begitu aku di buat tak berdaya bahkan hanya untuk mengatakan “iya”. Hanya angukan kecil yang membuatnya yakin bahwa aku setuju dengan permintaannya. Selanjutnya, malam itu menjadi lautan madu bagi kami berdua. Bulan merah yang menggelantung di langit malam itu menjadi saksi janji cinta.

Kurasakan sebuah tangan membelai lembut kepalaku dari belakang, “ada apa nduk? Kalau ada masalah, jangan didiamkan saja, nanti malah jadi jerawat lho.” Kata-kata emak bukannya membuatku tertawa, tapi justru membuat air mataku mengalir deras. Betapa tidak, dia begitu sabar menyayangiku seberapapun buruknya perlakuanku padanya.

Aku masih ingat, ketika dulu aku pernah nekat pergi tanpa pamit ke rumah Pak Lik di kota. Saat itu aku bosan dengan keadaan di desa yang serba ketinggalan. Aku ingin maju. Dengan bekal uang puluhan ribu, aku berangkat sendirian merantau nasib di kota. Untungnya Pak Lik sangat baik, dia mau menyekolahkanku. Aku dianggap seperti anaknya sendiri (sudah bertahun-tahun pernikahan Pak Lik belum dikaruniai seorang anak). Pak Lik-lah yang mengijinkan aku tinggal di kota ke emak. Darinya aku dapat kabar bahwa emak jatuh sakit ketika kutinggalkan. Tapi berangsur-angsur sembuh setelah tahu bahwa aku selamat dan tinggal di rumah adik kandungnya.

Dan sekarang, orang tua yang pernah kusakiti hatinya ini duduk disebelahku dengan wajah yang dibuat se-ceria mungkin hanya untuk menghiburku. Sekalipun senyumnya sudah tampak kendur, tapi aku masih bisa melihat ketulusannya yang begitu menyejukkan. “Sini cerita sama emak! Biarpun emak tidak sekolah, tapi emak juga pernah merasakan pahit-asamnya jadi anak muda seperti kamu juga.”

Aku tak tahan lagi, kupeluk wanita di sebelahku dengan hujan tangis yang sudah lama menumpuk selang waktu 3 bulan ini. Kutumpahkan semua kesedihan dan kekecewaan yang menyesak di dada. Aku tak menyalahkan orang lain, tapi aku mengutuk diriku sendiri yang terlalu bodoh membuat keputusan sendiri di tengah orang-orang yang mencintaiku. Kekesalan ini semakin menggunung sejak teman-temanku mengacuhkanku seperti sampah, sejak guru-guru menanyakan kenapa otakku tak secerdas dulu dalam pelajaran sekolah, sejak kepergian Andi ke Jepang melanjutkan studinya dua bulan lalu, sejak surat terakhirnya datang menceritakan kedekatannya dengan wanita Jepang di sana, dan… aku tak mau membaca surat terakhir darinya. Aku dapat menduga apa isi dari surat itu.

Dipan tua reot yang kami duduki jadi semakin membungkuk. Samar-samar aku mendengarkan suara “kriek” pelan. “Lho… lho ada apa ini, nduk? Kenapa tanganmu berdarah? Mila… Milaaaaa…….” Jeritan pilu emakku semakin lirih kudengarkan, aku sudah tak kuat lagi. Awan semakin gelap bersama kegelapan yang mengelilingi hidupku. Dan mungkin selamanya aku tak akan melihat matahari terbit seperti dulu lagi. Aku sudah tidak berani.

“Maafkan Mila, mak!” hanya kata terakhir itu yang bisa kuucapkan. Selanjutnya, aku merasakan dunia ini melayang, kulepaskan benda yang tergenggam sejak pagi di tanganku. Benda itu jatuh ke air, darah yang menempel padanya pudar di hempas arus sungai, membuat tanda yang menempel di badannya jadi semakin nampak. Tanda plus.

Penyesalan

Ketika kebodohan membelenggu.

Aku tertawa.

Bangga bergelimang harta.

Membusung dada atas jabatan,

Kecantikan,

Ketampanan,

Kepopuleran,

Lalu, lupa pada kematian.

 

Ketika cahaya perlahan menerpa.

Aku terdiam tanpa kata.

Takut menjejak langkah.

Dan berteriak, “Semua ini sia-sia.”

 

Kemudian aku mulai membaca.

Memahami hukum-hukum sang pencipta.

Dan tersadar,

Aku sudah di palung dosa.

 

Sayangnya ajal mulai menyapa.

Aku menangis.

Bersimpuh dalam sujudku.

Bingung,

Ke mana arah tujuanku?

 

Celakanya waktu telah menjemputku.

Meninggalkan puing-puing penyesalan.

Bergetar memikirkan masa depan.

Cukupkah bekal perjalanan?